Posted by: Maria Soraya on: Januari 18, 2011
“Muka lo udah mirip pohon mati”
“Jidat aja dilebarin”
“Nyokap lo ngidam apa sih, badan lo bulet bantet begitu ?”
“Perut udah mirip orang hamil”
“Umur tua, badan kecil kuntet. “
“Tulang berjalan”
Pernahkah Anda mendengar ledekan- ledekan seperti di atas ? Saya yakin pernah melihat atau anda sendiri yang mengalaminya. Yes, jokes seperti itu rasanya sudah jadi bagian dari sebagian masyarakat kita. Lihat saja tayangan televisi atau layar lebar, jokes menyerempet fisik selalu mendapat tempat di hati penonton.
Akhir- akhir ini saya bertemu dengan seseorang yang doyan bercanda fisik. Awalnya saya hanya menganggap lalu candaannya itu, tapi makin kesini mulutnya makin kurang ajar. Kalau boleh saya pengen menampar mulutnya yang nyinyir itu dengan ujung my 12 cm heels. Sadis ? Lha lebih sadis mana, mempermalukan orang lewat fisik di depan umum ??
Saya sadar banget, 2 tahun ke belakang berat badan saya bertambah sekian kilo. Bahkan, perut saya semakin melebar ke samping dan (maaf) bokong saya sangat cukup memenuhi rok saya yang dulu ndak pernah dipakai karena kegedean. But i am happy with my body dan belum berencana melakukan aksi diet ketat untuk menurunkan berat badan kecuali saya mau ganti profesi jadi model Victoria’s Secret. So, what the hell with my tummy and butt ?
Saya dibesarkan di lingkungan keluarga yang lumayan ‘tertib’, jadi saya tidak terbiasa mencecar / mengejek / meledek orang menggunakan kekurangan tubuh mereka. Ketika saya tidak menyukai seseorang, saya tidak akan memanfaatkan kekurangan mereka untuk dijadikan sasaran saya.
Contohnya, beberapa pekan sebelum tahun baru 2011. Saya sedang berkumpul santai dengan rekan – sebut saja B, lalu B membicarakan my old enemy yang kita sebut saja si A. Di mata orang, tujuan B mungkin baik, ia ‘melaporkan’ hasil pertemuannya dengan si A. Rupanya, laporan itu tak cukup sekedar laporan “kemarin dia begini lho, trus begitu …” tapi ia mencecar kekurangan fisik si A habis- habisan. Saya sontak langsung membela A. Reaksi B ? Tentu saja heran. Yes, that’s me.
Kenapa saya tidak menyukai kegiatan mengejek fisik ? Karena saya tidak terbiasa melakukannya dan aneh saja bercanda kok harus ‘menyentuh’ fisik. Memangnya stok candaan sudah habis ? Saya bisa memaklumi kalau yang mengejek ini orang sepuh alias tuwir yang sudah ndak bisa berubah. Lha, kalau masih muda seger gress … aduh, saya sangat prihatin.
Saya bisa memaklumi kalau candaan fisik itu tidak menyayat perasaan orang yang dituju atau malah sangat jauh dari fakta. Misal, anda mengejek teman anda itu MERONGGOS (giginya maju beberapa senti) padahal kenyataannya gigi orang yang diejek baik- baik saja dan cantik rapi jali. Nah, kalau itu saya akan ikut tertawa. Wong ndak ada yang meronggos ?
Kegiatan mengejek orang termasuk kategori bullying. Intinya, kegiatan ini membuat orang yang sudah tidak nyaman dengan kondisi fisiknya semakin tidak nyaman. Kalau mau dijabarkan, bullying itu :
Berikut ini adalah contoh tindakan yang termasuk kategory bullying; pelaku baik individual maupun group secara sengaja menyakiti atau mengancam korban dengan cara:
- menyisihkan seseorang dari pergaulan,
- menyebarkan gosip, membuat julukan yang bersifat ejekan,
- mengerjai seseorang untuk mempermalukannya
- mengintimidasi atau mengancam korban
- melukai secara fisik
- melakukan pemalakan/pengompasansumber : http://keyanaku.blogspot.com/2008/02/apa-itu-bullying.html
Kejadian yang paling saya kenang saat kuliah. Saya sekelas dengan seorang teman laki- laki berbadan kecil, kurus dan berkulit gelap – kita sebut saja J. Teman saya itu paling senang membullying orang- orang yang dimata-nya harus di-bullying. Suatu hari dia kena getahnya. Teman laki-laki saya yang lain, sebut saja X – seorang laki- laki pendiam yang memiliki tinggi di atas rata- rata dan badannya atletis. Mungkin si X sudah lama kesal dengan kelakuan si J. Sampai akhirnya,
“Dasar kuntet lo, emang dimana- mana yang namanya orang kuntet banyak omong and banyak tingkah kayak lo. Beraninya ngatain orang, sadar muka tua tapi badan lo kuntet tuch” demikian kalimat X yang sangat menohok J. Seisi kelas tertawa dan J hanya tertunduk diam.
Sadis dahsyat ya tindakan X ? Sejak saat itu X menjadi pendiam, dan yang terpenting dia tidak pernah mem-bullying teman- teman sekelasnya.
Perilaku mengejek atau “bercanda secara fisik” ini biasanya muncul dari orang yang memang besar di lingkungan seperti itu sehari- harinya, tidak percaya diri dengan fisiknya sendiri, bermulut nyinyir, kurang pergaulan, tidak tahu good attitude, dll.
Soal ejek – mengejek ini tidak memandang latar belakang status sosial. Kaya atau miskin. Saya punya teman yang keluarganya luar biasa tajir, jadi si teman ini juga berarti ikutan tajir dan banyak bergaul di kalangan VVIP. Yang namanya kalau udah VVIP, berarti attitudenya bagus. Ndak jaminan. Mulut teman saya itu kalau sudah mengejek fisik oran g bisa bikin kuping yang diejek itu merah.
Dan, sebagian orang yang senang mengejek atau “bercanda lewat fisik” ini biasanya memiliki sesuatu melebihi di atas yang diejek. Apa yang dimiliki ? status. Misal, dia bos anda atau ipar atau lebih tajir dari anda dll. Pokoknya, everything is lebih kecuali soal fisik.
Berhubung kita hidup di masyarakat majemuk, ndak dipungkiri kebiasaan individunya ini beragam. Otomatis kita harus beradaptasi dengan keberagaman itu. Ya, paling langkah – langkah yang perlu dilakuin saat ketemu si tukang mengejek ini kira- kira :
1. Diemin aja sambil berdoa dalam hati. Semoga kalaupun bukan Anda yang menampar mulutnya, biar Tuhan saja. Lha wong Tuhan itu sempurna, masa mau di-bullying juga ?
2. Kalau sudah keterlaluan, tegur langsung ke pelaku dengan tegas, bilang “gue enggak suka disebut begitu blablablabla …”. Diperlukan keberanian buat ngomong kayak gini kalau si pelaku ternyata memiliki status di atas anda, misalnya dia bos atau ipar anda ;p
3. Tindakan paling sadis adalah CELA balik si pelaku. Pelaku jarang sadar dengan tindakannya itu, jadi harus dibuat SADAR sepenuhnya. Dan juga, jarang Pelaku yang punya fisik mendekati sempurna. Jadi, boleh juga tuch meniru aksi teman kuliah saya si X itu. Hahahahahaa
Jadi, bagi Anda yang senang mengejek kekurangan tubuh orang dengan “bantal hidup”, “tulang berjalan”, “kuntet” dll. Kenapa tidak mencobanya dengan sebutan “tubuh lebih berisi” atau “kurang tinggi” dll ? Mulutmu itu ya harimaumu
xoxo,
Sabunn Si Kelinci Metal
2 | Maria Soraya
Januari 19, 2011 pada 00:06
thank you sudah mampir .. yang kurang bener dan kurang baik itu tindakannya, bukan manusianya
Tema: Albeo oleh Design Disease.
Januari 18, 2011 pada 22:57
hal seperti itu mengotakkan manusia bertingkat sosial,ga baik dan ga bener