Posted by: Maria Soraya on: Oktober 24, 2010
Hari ini sudah melewati dua pekan pasca Festival Kesenian Bikers, dimana saya diundang hadir untuk prosesi serah terima buku. Ndak hanya prosesi, saya pun ikut diajak jadi pamong tamu acara tersebut oleh Bor Pras Tio. Saudara baru saya yang penampilannya nyentrik itu menjelaskan “… kostumnya tradisional bikerz gaya masing2…yg penting putri banget … smg mau & gax bingung …. kolaborasikan kebaya dg gaya bebaz karya msg2″
Hmmm, so its a privilege for me to be invited to the event, right ? Sayangnya, saya dan lanangku urung datang karena satu dan lain hal. Jadi, i feel a bit dissapointed but it’s wokeeey lah, maybe next time ya *sambil senyum menenangkan hati.
Wait, wait, wait darling … who the hell r u kok bisa sok- sok ikut nge-bikers wong sampeyan iki nyemplak motor aja nda bisa ? Mbawa motor aja cuma bisa keliling komplek. Hahaha. Kok bisa- bisanya diundang hadir di acara tersebut ? Siape elu gitu loch. Me ? Ya, si Maria Soraya Az Zahra tanpa relasi pada siapapun di dunia motor kecuali saat ini sedang menjalin hubungan dengan lanangku yang nyemplung di dunia motor. That’s me
Honda Doeloe Club (HDC), The Topanerz Indonesia, Kampuz Jalanan, etc. Nama- nama tersebut mendadak akrab di telinga saya selama setahun lebih ini. Banyak sekali cerita dari lanangku mengenai dunianya itu, dari mulai struktur organisasinya (yang susunan nama-namanya mbikin saya merinding, kebayang ndak sih ada istilah Presiden + Jendral + dan Menteri dalam suatu organisasi ? ) hingga kiprah organisasi tersebut di dunia motor.
Imej bikers yang kurang baik di masyarakat umum pun pupus. Saya perlahan jatuh cinta pada nama tersebut. Namanya orang jatuh cinta pastinya ndak bisa diem, kepingin berbuat sesuatu sekecil apapun. Syukur, salah satu keinginan saya tersalurkan setelah saya mendengar soal Pengumpulan Buku Bekas Anak untuk Kampuz Jalanan Topanerz. Benar- benar I’m blesssed.
Dalam waktu dua minggu, saya mencari donatur dari individu dan akhirnya berhasil menggetok dua nama besar untuk menyumbangkan buku- buku bekasnya ke Kampuz Jalanan. Yang satu media bacaan perempuan, yaitu Majalah Cita Cinta dan satu lagi Penerbit Wahyu Media (anak grup Penerbit Agromedia – Gagasmedia). Total buku yang terkumpul lumayan banyak. Sekali lagi, saya kembali diberkati.
Sabtu kemarin, saya bertemu dengan Bor Pras di dunia maya. Kami brainstorming soal Topanerz, ndak banyak karena waktu yang terbatas. Pada kesempatan yang singkat itu, Bor Pras juga mendorong saya untuk ikut menulis soal Topanerz Indonesia. Ybs sudah browsing tulisan- tulisan saya sebelumnya. Ealah, bor …
“the topanerz adalah jiwa, hati, pandangan, pemikiran, saudara, keluarga, kesatuan, kita sebagai manusia … “
ASPAL MEMANGGIL !
-Sabunn-